Gadis kecil itu bernama Ara

Ada yang sudah pernah punya pengalaman konsultasi ke psikolog? Saya belum. Ternyata pengalaman ke Psikolog bisa didapat dalam buku Gadis Kecil itu Bernama Ara tulisan Bunda Ve – Dra. Vincentia Dwiyani.

Buku ini saya temukan di jajaran rak parenting di sebuah toko buku. Buku yang mencuri perhatian karena berbeda dengan buku parenting kebanyakan yang memuat poin-poin doktrinisasi cara menjadi orang tua yang baik. Isinya lebih mirip novel dari pada buku parenting karena merupakan cerita sesi-sesi konsultasi psikologi Bunda Ve dengan Ibu Maryam, ibu seorang anak bernama Ara yang di diagnosa mengalami keterlambatan dalam belajar (slow learner).

Cerita dimulai dengan konsultasi pertama yang berisi keluhan Bu Maryam karena anak pertamanya, Ara akan tinggal kelas. Ibu 3 anak dengan suami yang harus kerja di luar kota merasa stress dengan tuntutan harus mendampingi Ara belajar selama 8 jam untuk mengejar ketertinggalannya. Ia butuh psikolog untuk bisa ‘menyembuhkan’ Ara. Dari awal Bunda Ve menjelaskan bahwa lembaganya tidak bisa bekerja sendiri dan perlu bekerja sama dengan orang tua.

“Ibaratnya, kita sama-sana menggandeng tangan Ara. Ibu di kanan, dan kami di kiri. Jika kita memiliki visi yang berbeda, maka jalan kita pun berbeda. Bisa dibayangkan, Ara pasti akan kebingungan.” (hal 12)

Di antara setiap bab yang berisi sesi-sesi konsultasi psikologi, terdapat bab Dear Parents sebagai bahan perenungan untuk para orang tua.

Orang tua sering menempatkan anak sebagai simbol yang bisa meningkatkan nilainya di mata masyarakat. Jika anakku pandai, maka nilaiku akan meningkat. Sebaliknya, jika anakku kurang pandai, nilaiku akan menurun. Betapa beratnya menjadi seorang anak, jika semua orang tua berpikiran seperti tersebut.

Beban yang dibuat orang tua sendiri, terkadang mendorong orang tua mengambil sikap yang kadang jauh dari rasa cinta terhadap anak.

Ketika orang tua merasa tidak berhasil menjadikan anak-anak mereka sebagaimana harapan mereka, segera mereka menempatkan diri sebagai korban yang perlu dikasihani. Inilah dilematika orang tua yang menukur segala sesuatu menggunakan materi, nama baik, dan eksistensi di dalam masyarakat. (hal 15)

Dari konsultasi pada sesi kedua ditemukan bahwa rasa bersalah Bu Maryam menjadi faktor yang dominan. Sesaat ia menyebutkan dirinya sebagai subjek yang harus menanggung kesalahan, namun disaat lain ia menyalahkan Ara. Cara melepaskan rasa bersalah itu justru semakin membuatnya mereasa bersalah. Menyalahkan Ara,menyalahkan keadaan, adalah salah satu cara untuk melepaskan rasa bersalah yang bersarang di hatinya. Dan itu justru membuatnya makin tertekan. (hal 27)

Saat ibunya berkonsultasi, Ara juga mendapat pendampingan untuk bisa mengatasi masalahnya. Anak yang tanpa ekspresi ini diajak untuk bermain pasir dan mengeluarkan emosinya. Dari pendampingan itu, terungkap bagaimana si ibu tidak mengijinkan anak-anaknya bebas berekpresi dengan bermain kotor-kotoran di rumah. Maklum si ibu cenderung perfeksionis dan ingin selalu rumahnya bersih. Dalam sesi itu, Ara mendapatkan stimulasi kerja syarafnya dengan bermain pasir, diajak membangun interaksi dengan orang lain, dibangkitkan emosi riang, dimotivasi kepemimpinan dan rasa percaya diri serta tanggung jawabnya. Hal yang tidak ia dapatkan bersama ibunya.

Pada sesi ketiga, Bu Maryam di minta untuk membagi selembar kertas menjadi 2 bagian. Ia diminta menuliskan sifat jelek dirinya yang belum berhasil diatasi di bagian yang tidak dia suka. Kemudian diminta untuk menutup mata dan membayangkan dirinya dengan sifat itu.

“Kadang kita tidak menyadari bahwa sifat buruk kita membuat penampilan kita pun buruk, menakutkan.” (hal 52)

Setelah itu Bu Maryam diminta menuliskan sifat baik dalam dirinya pada bagian yang ia sukai. Dan ia pun sampai pada kesimpulan, “Selama ini saya lebih suka tampil dengan sikap-sikap buruk saya ketimbang sikap baik saya. Itulah mengapa saya sering terlihat berantakan.” (hal 54)

Dalam setiap sesinya, ada saja pelajaran menarik yang dapat kita ambil. Sebagai pembaca, kita seperti ikut berada di dalam ruangan konsultasi. Tanpa terasa menjelma menjadi sosok Bu Maryam yang tengah menjalani terapi. Kita seperti bisa merasakan emosi yang berubah-ubah dari rasa bersalah, rendah diri, tenang, marah atau bahkan penolakan. Emosi yang tadinya tidak keluar dan berusaha ditutup-tutupi.

Setelah masalah psikologis bisa teratasi, barulah pada sesi-sesi terakhir Ara dibantu untuk memahami pelajaran seperti Matematika. Prinsipnya, anak perlu belajar dalam suasana riang.

“Ilmu itu ibarat tamu. Ketika kita penasaran, atau menyukai sebuah ilmu, maka dengan gembira kita akan membuka pintu pikiran kita lebar-lebar. Sebaliknya, ketika kita tidak menyukai sebuah ilmu, maka kita akan menutup rapat pintu pikiran kita menghadapi ilmu tersebut.

 

Oleh karenanya, jika anak mengalami kendala pada mata pelajaran tertentu, itu berarti anak menutup pintu pikirannya untuk mata pelajaran tersebut.” (hal 180)

Sadarilah bahwa anak kita sekarang lebih pintar daripada saat mereka masih bayi. Dan akan lebih pintar lagi 10 tahun kedepan. Sabarlah menjalani prosesnya. Anak-anak akan semangat menjalani proses ini jika kita pupuk dengan energi cinta yang tulus, sehingga mereka bisa menjalani proses ini dengan penuh kegembiraan.

“Kegagalan anak usia sekolah bukan karena mereka bodoh, melainkan karena mereka KURANG PERCAYA DIRI.”

– dari buku Psikologi Pendidikan karya Prof. Sumantri.

Sebuah buku yang sangat menarik buat teman-teman belum memiliki waktu dan budget berkonsultasi dengan psikolog.

 

Data buku Gadis Kecil itu Bernama Ara

Penulis : Bunda Ve

Penerbit: Elex Media Komputindo, 2014

Hal          : xi + 203 hal, 14x21cm

Harga    : 58.800,-

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

One thought on “Gadis kecil itu bernama Ara

  • February 20, 2016 at 1:43 pm
    Permalink

    “Kegagalan anak usia sekolah bukan karena mereka bodoh, melainkan karena mereka kurang percaya diri.”

    Membaca ini mengingatkan saya pada saya di beberapa tahun lalu, saat dimana saya akhirnya sedikit demi sedikit mulai mengerti mengapa saya lemah di pelajaran X, dan teman lainnya yang lemah di pelajaran Y atau Z. Terkadang ada pendidik yang menyatakan kalau saya atau teman lainnya sangat bebal dan sulit sekali untuk memahami materi yang ada. Cenderung untuk memaksakan kehendak dengan membanding-bandingkan kami dengan murid lainnya, yang tanpa sadar mengindikasikan bahwa adalah pertanyaan besar mengapa kami sulit memahami materi semudah itu. Pada akhirnya, saat pelajaran tersebut berlangsung, kami mulai menolak untuk mempelajarinya. Kami terlalu takut, bahkan untuk mempresentasikan tugas yang telah kami kerjakan karena kami yakin hasilnya akan sama saja.

    Pembelajaran yang menarik untuk dua sisi, bagi pendidik untuk selalu mendukung anak didikannya dan untuk anak didiknya agar selalu terpacu dan melatih rasa percaya dirinya. Materi psikologi seperti ini memang selalu menarik untuk diulas. Terimakasih sudah berbagi! 😉

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: