#9 Tips Menulis dari Dewi Lestari

Pada awalnya saya tidak terlalu suka karya-karya Dewi Lestari. Membaca Supernova Ksatria, Putri, dan Bintang jatuh saat cetakan pertama di awal tahun 2000 membuat saya memberikan review negatif pada buku ini. Di saat semua orang tergila-gila, saya malah bingung dan menganggap itu buku yang aneh. “Hal sederhana dibuat sulit dan berputar-putar. Bilang cinta aja kok pakai segala rumus tingkat tinggi.” Singkat kata, Supernova nggak banget.

Hingga suatu saat saya dapat rekomendasi Novel Perahu Kertas dari adik saya. “Ceritanya sweet banget deh, baca aja,” kata adik saya. Sebenarnya saya tidak begitu suka cerita cinta-cintaan anak remaja. Males banget baca masalah sederhana seperti itu. Tapi ajaibnya, Perahu Kertas berhasil membius lembar demi lembar hingga halaman terakhir hanya dalam waktu beberapa jam. Gaya penulisan Perahu Kertas bagai bumi dan langit bedanya dengan Supernova yang pernah saya baca. Ringan tapi manis dan menyentuh.

Loh, ternyata Dewi Lestari bisa juga menulis yang seperti ini ya? Yang tidak perlu pamer rumus tingkat tinggi untuk hal-hal yang sederhana? Sejak saat itu, mulailah saya melirik karya-karyanya yang lain.

Mana sih karyanya Supernova yang disukai oleh sejuta umat itu? Dan benar saja, lanjutan seri supernova yang lain membius saya untuk menamatkan satu novel hanya dalam beberapa jam. Sejak saat itu saya menasbihkan diri menjadi Dewi Lestari Number one fans. She is maestro!

Mulailah saya stalking ceceran tulisan-tulisan Dewi Lestari di berbagai blog yang ditulisnya. Dan benar saja, disana ada ilmu-ilmu tersembunyi yang diselipkan penulis kelahiran 1976 ini.

Ketika menulis Perahu Kertas, Dewi Lestari membuat sebuah journal perjalanan penulisan novel itu selama 55 hari. Nama blognya Journal of 55 days novel, an upclose and personal insight of a creative journey, from a wordless page to 70000 words in 55 days. Pada bulan Oktober 2007, Dewi berbagi sejumlah tips menulis keren berdasarkan pengalamannya sebagai penulis, editor, juri lomba, dan guru menulis.

Berikut 9 tips menulis menarik dari Dewi Lestari:

1. Batasi penggunaan tanda baca dan hurup berulang yang berlebihan

Hindari hal seperti “Iyaaaaaaa……….” atau “Aaaaarg!!!!”. 3 saja sudah cukup menjelaskan

2. Menulis novel  dengang gaya bahasa novel

Jangan menulis novel seperti menulis 50 lembar sms. Jangan pakai gaya sms untuk membuat novel.

3. Tidak perlu menuliskan semua

Beri ruang pembaca untuk berimajinasi. Beri mereka deskripsi yang meyakinkan dan menginspirasi, bukan deskripsi malas mikir.

Contoh:

Orang tertawa. Tidak perlu ditambahkan ha….ha….ha….

Jantung berdebar. Tidak perlu ditambahkan dag dig dug segala.

4. Buat dialog yang efisien.

Jangan bertele-tele seperti situasi nyata. Jawaban seperti “Ha?” “Apa?!” “Huh!” tidak perlu ditulis.

5. Atur ritme dan penataan tempo adegan demi adegan

Sisakan umpan yang membuat pembaca ingin terus melanjutkan. Dewi Lestari belajar mengenai ini dari komik Candy – Candy, Pop Corn, Ke Gunung lagi, di mana umpan-umpan dapat tersebar dengan tepat. Ini menyebabkan novel tidak membosankan. Pembaca menjadi penasaran dan kecanduan untuk mengetahui lanjutannya.

6. Sebaiknya jangan membuat sad ending

Kasihan kan pembaca sudah capek-capek membaca ratusan lembar, eh malah disuguhin akhir yang tidak memuaskan.

7. Saat menulis, jauhi racun sosial media

Menulis jangan sambil FB-an atau Twitter-an.

8. Fermentasi tulisan

Tulisan itu seperti anggur, tape, tempe atau peuyeum yang perlu proses fermentasi agar bisa matang. Simpan dan jangan disentuh selama sehari atau seminggu. Percaya deh, tulisan itu akan menunjukkan wujud aslinya yang sering kali lebih jelek. Pengalaman Dewi, fermentasi minimal 5 hari. 2 minggu kalau mau sempurna.

9. Tahu saat berhenti

Hati-hati untuk tergoda merevisi tulisan berulang kali. Biasanya setelah kita melakukan fermentasi, ada saja yang perlu diperbaiki. Dewi biasanya membatasi revisi hanya sampai 3 kali. Setelah itu, just let it go. Hingga bertahun-tahun kemudian, Dewi masih gatal ingin merevisi manuskrip Supernova atau Filosofi Kopi. “Tapi kita harus menghormati tulisan kita apa adanya pada saat itu. Berhentilah di satu titik usai dan menerima tulisan kita apa adanya.”

Tidak ada pekerjaan yang sempurna.

Makna kesempurnaan adalah penerimaan yang menyeluruh dan apa adanya.

Demikian sedikit tips menarik dari sang Maestro. Semoga bermanfaat.

Sumber:

Tulisan aslinya bisa dilihat di sini dan di sini.

Blog resmi Dewi Lestari

 

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

4 thoughts on “#9 Tips Menulis dari Dewi Lestari

Leave a Reply

%d bloggers like this: