A Selfless Good Deed

Bisakah kita benar-benar berbuat baik tanpa pamrih? Bahkan untuk sekedar rasa senang dalam hati.

Ini adalah perdebatan Joey dan Phoebe dalam sitcom Friends episode 101 The One Where Phoebe Hates PBS di season 5.

Bermula dari Joey yang ingin melakukan perbuatan baik dengan menjadi co-host pada sebuah acara TV.

“Itu sih bukan perbuatan baik, itu sih lu-nya aja yang pengen masuk TV. Itu bukan good deed, itu selfish – ada pamrihnya!” kata Phoebe.

“Pamrih? Kalau kamu melakukan sesuatu dan kamu merasa senang – make you feel good, itu namanya pamrih. Tidak ada perbuatan baik yang tanpa pamrih. Semua orang pamrihan.” debat Joey.

“Menurut kamu, saya pamrihan?” tanya Phoebe.

“Apakah kamu orang?” tantang Joey.

Joey pun menantang Phoebe untuk menemukan satu saja perbuatan baik yang tanpa pamrih. Mulailah Phoebe kerja keras mencari pembuktian.

“Saya pernah membiarkan diri saya disengat lebah dengan sengaja. Itu perbuatan baik,” Phoebe mengeluarkan argumentasi konyolnya.

“Nggak ah. Itu bukan perbuatan baik. Karena lebahnya mati setelah menyengat kamu,” balas Joey.

Akhir cerita, Phoebe melakukan perbuatan baik dengan menyumbang pada sesuatu yang ia sangat benci. Tapi ternyata itu malah memberi kebaikan buat Joey. Dan Phoebe pun merasa senang karena bisa membuat Joey senang. See…there is no a selfless good deed.

* * *

Banyak petuah mengajarkan kita agar tidak pamrih atas pekerjaan yang kita lakukan. Namun susah untuk dipungkiri, bahwa berbuat baik untuk orang lain itu hasilnya akan kembali ke kita. Baik sadar maupun tidak sadar. Saya tidak membahas masalah balas jasa berupa uang, bingkisan, ucapan terima kasih saja. Hasil dari perbuatan baik bisa saja sekedar rasa hati yang ‘hangat’ dan membuat kita ketagihan melakukannya.

Saat seseorang memberi hadiah, apakah ia tulus untuk kebahagiaan si penerima hadiah atau untuk kepuasaan dan kebanggaan dirinya sendiri? Ada sebuah kasus yang menarik dalam biographinya Steve Jobs karangan Walter Isaacson (Bentang, 2011). Steve Jobs dikenal sebagai orang yang sangat tidak suka menerima hadiah. Ketika ulang tahun Steve menerima sebuah hadiah dari sahabatnya. Setelah mengucapkan terima kasih kepada si penerima, ternyata hadiahnya disimpan begitu saja dan tidak diperdulikan. Mungkin Steve Jobs mikirnya “Kalau saya perlu, saya pasti bisa beli sendiri. Ngapain ngasih saya barang yang nggak saya butuh.” Dan si sahabat ini agak kecewa.

Saat kita memberi, seringkali bukan benar-benar tanpa pamrih. Ada yang memberi dengan harapan untuk mendapatkan balasan yang setara, ada yang memberi dengan harapan mendapat perhatian, ada yang memberi dengan alasan menanam budi yang akan dipetik dikemudian hari dan dianggap sebagai hutang, bahkan ada yang menuntut ucapan terima kasih.

“Dia orang yang tidak tahu sopan santun, masa diberi sesuatu tidak ada ucapan terima kasihnya.”

Pernah mengucapkan kalimat itu? Atau setidaknya terselip di dalam hati?

Seperti kata Joey, semua orang itu pamrihan. Kalau kamu statusnya ORANG, kamu pasti PAMRIH. There is no a selfless good deeds.

Saya sendiri pada dasarnya adalah orang yang selfish. Yang penting saya dulu, baru orang lain. Yang penting tujuan saya tercapai dulu, kalau orang lain bisa dapat keuntungan dari sana, Alhamdulillah. Kalau nggak, minimal target saya tercapai.

Kalau saya urus anak, itu bukan sekedar karena saya suka urus anak-anak. Apalagi merasa itu kewajiban. Mereka investasi masa depan saya. Its not for them, its for me. Ketika mereka ternyata senang saya urus dan jadi anak yang sholeh, itu bonus. Kalau anak-anak merasakan kebaikan saya, itu sebenarnya bukan dari saya. Tapi bonus dari Yang di Atas karena mereka berbuat baik menurut kata-kata ibunya.

Termasuk juga ketika menggagas program #ODOPfor99days. Program ini sejatinya kebutuhan saya buat cari teman belajar menulis bersama. Nggak ada niatan buat jadi guru. Ya iya lah, siapa eluh mau jadi guru segala. Jadi tidak ada yang perlu berterima kasih atas program ini. Because I’m not doing this for you, it for me. Absolutely selfish. Nah kalau teman-teman merasakan manfaat program ini, itu adalah balasan Yang di Atas karena teman-teman semua mau menemani Shanty. Sesederhana itu.

Jahat! Mungkin.

Tapi itu lebih mudah, dibanding dengan kita berpikir melakukan sesuatu untuk orang lain. Saat melakukan sesuatu untuk orang lain, sering tanpa sadar kita menuntut balas. Kita berharap ucapan terima kasih atau sekedar perlakukan baik yang seimbang. Ironis kan?

Berbuat baik dan Pamrih itu seperti 2 muka mata uang. Satu muka perbuatan baik, satu muka pamrih atau balasannya. Sudah sepaket. Nggak bisa ditolak.

Sekarang tinggal pamrih seperti apa yang kamu harapkan.

Kualitas hidupmu ditentukan oleh itu.

Konsep ini juga ada dalam ilmu sedekah pada setiap agama. Saat kita memberi, pada dasarnya kita menerima. Saat kamu memberikan sebagian kecil hartamu, pada hakikatnya kamu merasa memiliki kelebihan. Coba pikir, orang pelit yang selalu kekurangan tidak akan pernah bisa sedekah. Sedekah hanya dilakukan oleh orang yang merasa sudah cukup dan mampu menyisihkan sebagian hartanya. Tidak perduli berapa pun jumlah rekening mereka.

Saya sebenarnya bukan orang yang suka dengan konsep hitung-hitungan sedekah. Kamu perlu rejeki 10, jadi kamu harus sedekah 1. Rejeki berbanding lurus dengan sedekah. Menurut saya ini konsep yang kurang tepat.

Kalau dalam bukunya Rhonda Byrne, The Secret (GPU, 2007) rasa kelebihan pada orang-orang yang bersedekah itu lah yang berfungsi sebagai magnet bagi alam semesta untuk menarik lebih banyak keberuntungan dalam hidup. Kuncinya ada di rasa lebih, rasa cukup. Jadi saat kamu sedekah, tapi niatnya karena butuh balasan sesuatu, hakikatnya kamu bukan merasa lebih. Kamu adalah orang yang kekurangan. Mental kekurangan, biasanya tidak akan efektif sebagai magnet untuk mendapatkan keberuntungan.

Nah ketika kita sudah tahu bahwa setiap perbuatan baik itu pasti ada balasannya, masih terpikirkah untuk melakukan hal jahat pada orang lain?

Seperti kutipan surat Bu Susi Pudjiastuti yang menjadi viral di sosmed,

Ini bukanlah kisah heroik saya. Namun, ada perasaan “hangat” (saya merasakan “good feeling” yang luar biasa!) menyusup ke dalam hati kita, ketika kita mampu berbuat sesuatu untuk orang lain dan karena kita bisa & memutuskan untuk melakukannya.

Pada hakikatnya memberi itu adalah menerima. Tidak perlu terlalu dipikirkan, balasan otomatis akan datang menyusupi relung hati.

 

Sumber:

Episode Friends 101 The One Where Phoebe Hates PBS di season 5 bisa di tonton di sini.

Saya pernah menulis tentang ini di rumah rahasia saya ketika mengikuti program #nulisrandom2015 bersama nulisbuku community di sini.

Kok bisa tahu script film? Rahasianya ada di sini.

Kok bisa tahu data episode sebuah serial? Rahasianya ada di sini.

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

One thought on “A Selfless Good Deed

Leave a Reply

%d bloggers like this: