#9 Tips menulis resume acara ala Shanty

Saya ini pada dasarnya pemalas. Ketika suatu hari ada seorang yang bertanya bagaimana caranya menulis resume acara seperti yang biasa saya tulis, saya langsung ke-GR-an yakin bahwa besok saya akan dapat pertanyaan yang sama. Daripada habis waktu menjawab pertanyaan yang sama, lebih baik saya tulis saja di sini. Jadi kalau ada yang mau tanya-tanya tinggal kasih saja link ini. Hemat waktu dan energi.

Tips #1 Hanya mencatat bagian menarik

Hanya poin-poin menarik yang saya catat di notes kecil seharga 4000-an. Jadi bisa dipastikan kalau tulisan saya panjang,  itu karena memang banyak materi penting yang perlu dikenang dan dicatat dalam sejarah. Info-info klasik, standar dan basi tidak pernah saya ijinkan masuk ke catatan.

Tips #2 Foto slide

Saya selalu memfoto setiap slide materi yang ditayangkan untuk membantu mengingat alur materi. Apa yang ada di dalam slide tidak perlu dicatat lagi.

Tips #3 Laporan lisan

Setiap pulang acara saya suka menceritakan isi materi yang benar-benar menarik ke suami atau siapa saja yang mau dipaksa untuk mendengarkan. Biasanya proses ini membantu pemahaman terhadap materi. Terkadang sebelum materi ditulis, saya sudah menceritakannya pada 1-3 orang.

Tips #4 Googling

Saat menulis saya pasti terkoneksi dengan internet dimana banyak window terbuka untuk mencari informasi pendukung. Jadi catatan yang bolong-bolong bisa disempurnakan. Mbah Google memang benar-benar dukun sakti yang tahu banyak hal.

Jangan malas membaca detil!

Kita tidak akan bisa menulis bagus kalau malas baca. Setelah menulis panjang-panjang, biasanya ada saja orang yang bertanya hal-hal konyol yang sebenarnya sudah ditulis. Padahal tinggal baca saja dengan lebih teliti.

Pekerjaan yang cocok buat orang yang butuh diet.

Tips #5 Konfirmasi ke narasumber

Jika memungkinkan,  saya selalu mengkonfirmasi materi ke narasumber atau panitia. Biasanya mereka akan memberikan masukan dan koreksi terhadap tulisan.

Tips #6 Materi pendukung akurat

Alhamdulillah sekarang mulai banyak teman yang bisa melengkapi materi dengan rekaman audio di Soundcloud dan visual di YouTube, yang kemudian di share di internet. Rekaman itu sangat membantu untuk mendapatkan detil materi yang terlewat dicatat karena bisa kita ulang-ulang.

Tips #7 Segera ditulis

Semakin fresh from the oven semakin enak nulisnya. Tulis sesegera mungkin selagi masih hangat dalam ingatan bagaimana ekspresi si pembicara, bagaimana suasana dalam ruang pertemuan, bagaimana perasaan saat mendengarkan materi. Dengan kapasitas memori emak-emak yang terbatas, semakin ditunda, bisa bubar semua apa yang ada di kepala. Jadi dari pada sia-sia, segeralah ditulis.

Saya belum lama ini sempat dapat wejangan dari seorang dosen di Malang yang sukses menulis puluhan buku, Paman Sanapiah Faisal. “Kalau mau nulis itu jangan ditunda lama-lama. Tulis dengan cepat. Catat yang utama apa yang ingin kamu sampaikan. Segera jabarkan dalam poin-poin penting. Dan segera ditulis dan jangan ditunda! Saya biasa menulis 1 buku dalam waktu 1-3 bulan saja.”

Dalam menulis resume acara, saya biasanya menghabiskan waktu sekitar 3-5 jam untuk tulisan sekitar 2000-an kata. Maklum pemula. Biasanya saya menulis dinihari sampai pagi saat tidak ada gangguan.

Nggak ngantuk? Tergantung materi yang mau ditulis. Kalau materinya bagus sekali, saya bisa nggak tidur memikirkannya. Jadi daripada cuma dipikir aja, ya mending ditulis. Setelah ditulis, beban isi kepala bisa lebih kosong dan bisa tidur lebih tenang. Kita memang harus pintar-pintar mengatur isi kepala yang kapasitasnya terbatas ini.

Tapi memang sih, kadang saya suka cape duluan kalau lihat isi kepala yang berantakan. Sama kaya rumah saya. Jadi bingung mau ngerjain yang mana dulu. Akhirnya hanya bengong dan ngelamun melihat keberantakan lahir dan batin.

Kalau sudah begitu susah juga. Mau tidur nggak bisa, mau beberes males, mau nulis apalagi. Nge-hang ceritanya. Akhirnya saya memilih Ctr-Alt-Del dengan cara yang paling saya suka saja. Menulis! Berusaha menutup mata dari tempat piring kotor yang menumpuk, setrikaan yang segunung, anak yang kelaparan disuruh buat telur sendiri dan minum susu, banyak pekerjaan yang ingin dikerjakan dikepala dimasukkan ke laci dulu. Berjuang mencari celah sempit untuk bisa menulis mengeluarkan apa yang ada di kepala. Baru setelah itu program kembali berjalan normal kembali. Idealnya sih memang upgrade hardware dan software. Tapi kan mahal. Loh kita ini lagi ngomong apa ya?

Tips #8 Miliki apps pendukung

Di hari smartphone hanya seharga sejutaan, optimalkan penggunaannya dengan menginstall apps yang mendukung untuk menulis. Di HP lungsuran tercinta, saya menginstall apps yang sangat memudahkan untuk menulis seperti ColorNote – untuk mencatat apa saja, Tesaurus bahasa indonesia, KBBI, dan Kamusku.

Salah satu settingan keren yang wajib diaktifkan di HP adalah Predictive text. Pastikan Predictive text dalam posisi aktif dan input languages-nya bahasa Indonesia. Settingan ini sangat membantu untuk bisa menulis dengan cepat. Cukup tulis 1 huruf, atau bahkan belum menulis apapun, HP kita sudah sok tahu menawarkan 3 pilihan kemungkinan kata.

Tips #9 Niatkan untuk berbagi

Tapi sejujurnya memang nggak tulus-tulus amat sih niatnya. Karena ada yang bilang, kalau kita berbagi ilmu, pemahaman kita akan bertambah. Selain itu memang sebenarnya ada rasa nggak mau rugi juga. Sayang kalau materi yang begitu bagus hanya berakhir di notes 4000-an. Mudah-mudahan kalau ditulis, bisa banyak orang yang ikut menyerap materi yang sama. Bukan tidak mungkin, beberapa tahun kemudian, materi-materi yang kita tulis ternyata sangat berguna untuk anak dan cucu kita.

Tulisan ini dibuat bukan untuk sok-sok-an berbagi tips menulis  seperti yang biasa dibagi oleh para penulis best seller. Da aku mah apa atuh lah dibanding Dewi Lestari, Tere Liye, Andrea Hirata, Ahmad Fuadi,  RadityaDika, Aditya Mulya, atau Agustinus Wibowo, yang karyanya diakui dunia. Tapi saya tetap merasa perlu menulis tips untuk merekam kemampuan hingga level ini. Level pengalaman menulis 9 artikel review acara sajah di blog yang pengunjungnya baru 6000-an. 9 artikel 9 tips. Kalau besok-besok saya jadi penulis terkenal, mungkin tipsnya sudah berubah. Dan saya akan selalu mengingat tips yang ini.

Menulis adalah sebuah suatu bentuk komunikasi yang sangat penting selain bicara dan gambar. Menurut Kak Andi Yudha Asfandiar si pencipta karakter Mio yang terkenal itu, penting untuk setiap orang memiliki kebiasaan mencatat. Catatlah agar tidak lupa. Al Quran itu adalah sebuah catatan.

Rajinlah mencatat apa saja. Mulai dari daftar utang ke tukang sayur, daftar orang yang bikin kita kesel atau senang hari ini, nakal atau lucunya anak-anak, perasaan kesal atau sayang ke pasangan, daftar barang yang ingin kita miliki, catatan makanan enak yang kita makan hari ini, film yang kita tonton, hingga hal-hal yang perlu kita syukuri dalam hidup. Untuk catatan yang kira-kira bermanfaat di masa depan bolehlah dibagi dalam blog agar tidak tercecer. Tidak usah berpikir muluk-muluk bahwa itu akan bermanfaat bagi sejuta umat, sekedar bermanfaat buat kita sendiri sebagai bahan pelajaran atau untuk dilihat anak cucu kita suatu hari nanti, itu sudah cukup.

Bagaimana? Cukup puas? Yang mau nanya-nanya boleh di kolom comment. Tapi pastikan baca dulu dengan teliti dan jangan buat saya kesal dengan bertanya hal yang sudah ada jawabannya diatas.

Sumber:

Perabot dari rumah lama yang bisa dilihat di sini 

(1000 words)

 

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

Leave a Reply

%d bloggers like this: