Kiran Bir Sethi, Belajar “Aku Bisa” dari India

Untuk kesekian kalinya saya mengenal profil orang tua yang karena ketidakpuasan pada pendidikan sekolah, memilih untuk menarik anak mereka dari sekolah dan membimbing si anak sendiri. Percaya atau tidak, kemarahan mereka pada sistem pendidikan sekolah membuat mereka menjadi pakar pendidikan yang terkenal. Bahkan mendunia seperti Kiran Bir Sethi. Jadi wajar saja Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan bela-belain mengunjungi sekolahnya, Riverside School di pinggir Sungai Sabarmati, Ahmedabad, Gujarat, India, pertengahan September 2015.

Bermula dari saat Raag, anaknya yang saat itu berusia 5,5 tahun pulang sekolah sambil membawa essai yang diberi garis merah tebal oleh gurunya, karena dianggap tidak sesuai dengan yang dicontohkan. Buat Kiran tidak masuk akal anak usia 5,5 tahun sudah dicap “kamu tidak bisa”. Jika itu dibiarkan, anak akan kehilangan daya kreasi, tidak bisa menentukan pilihan, dan tidak mampu mengutarakan pendapat.

Tahun 2001 Kiran memutuskan mendirikan Riverside School hanya dengan 27 anak dan 5 guru. Kini sekolah itu telah memiliki 407 anak dengan 70 guru. Kurikulum sekolah mereka yang menerapkan konsep design thinking yang memiliki prinsip merasakan (feel), membayangkan (imagine), melakukan (do), dan membagikan (share).

Kurikulum ini sudah diujicobakan di 64 sekolah di India dan 5 sekolah di Spanyol, Peru, Amerika Serikat, dan Taiwan. Tahun 2009, mulai dilakukan gerakan global melalui Design for Change (DFC) School Challenge yang kini menjangkau 23 negara. Dalam program ini anak-anak ditantang untuk mencari satu ide, apa saja yang terasa mengganggumu, untuk dikerjakan selama 1 minggu, dan ubah 1 miliar orang. Hasilnya, hingga kini telah terkumpul 10.000 cerita pengalaman anak.

Berdasarkan pengalamannya, Kiran berkesimpulan bahwa untuk membentuk individu yang kreatif mengekplorasi dunia, mengembangkan dirinya, dan peduli pada sesama diperlukan cara berpikir design thinking.

“Kita harus percaya bahwa kita bisa melakukan perubahan ke arah yang lebih baik,” katanya.

Langkah pertama, anak dirangsang untuk merasakan “ada yang salah dan mengganggu” di masyarakat sekitar mereka sehingga akan muncul ide untuk menangani masalah tersebut. Jadi anak-anak dibiasakan untuk terjun ke masyarakat dan mencari solusi konkret.

Contohnya saat anak kelas VII yang merancang bentuk tempat sampah baru di taman kota bersama sebuah perusahaan. Sebelum sampai ke desain bentuk, mereka harus mempelajari interaksi sosial di taman. Bagaimana kebiasaan orang membuang sampah, standar kebersihannya, dan menghitung volume.

Dengan kurikulum kewarganegaraan, partisipasi dengan masyarakat sudah terjadi sejak anak kelas III. Hasilnya, prestasi Riverside melampaui prestasi 10 sekolah terbaik di India untuk mata pelajaran Bahasa Inggris, Matematika, dan Sains.

Alumni 2013

Anak-anak ditekankan untuk tidak takut salah. Jika gagal, ulang lagi, ciptakan ide baru lagi, minta umpan balik lagi, begitu seterusnya. Yakinlah bahwa anak memiliki potensi dan mampu menciptakan solusi hanya dengan rasa ingin tahu. Anak-anak harus punya kepercayaan diri bahwa mereka bisa membuat dunia ini menjadi tempat yang lebih baik.

Riverside selain memakai kurikulum nasional dan internasional, Cambridge, mereka juga memiliki kurikulum sendiri. Kerennya, anak-anak dilibatkan dalam menyusun kurikulum, silabus hingga PR. Anak-anak dimintai pendapatnya apakah materi tertentu masih relevan dan sesuai kebutuhan mereka atau tidak. Fokusnya adalah mengubah pola pikir dengan prinsip design thinking. Dengan prinsip ini, masalah dilihat sebagai peluang dan kesempatan.

Bagi Kiran, suara anak harus didengar. Jika ingin menyelesaikan masalah anak dan pendidikan, bicaralah kepada anak. Selama ini, orang dewasa selalu mendesain semuanya untuk anak, tetapi tidak dilakukan bersama anak karena merasa lebih tahu kebutuhan anak.

Peraih Ashoka Fellow 2008 dan 4 penghargaaan prestisius lainnya ini berkata, “Saya melibatkan anak-anak hampir di semua hal. Bahkan, arsitektur bangunan sekolah pun datang dari ide anak-anak. Setiap kali ragu akan melakukan sesuatu, minta pendapat anak-anak saja. When in doubt, go to user. Mengapa harus susah-susah mikir sendiri, belum tentu betul juga. Dan, jangan bertanya kepada orang tua karena mereka biasanya emosional dan subyektif. Mereka hanya tertarik pada apa yang akan terjadi atau akan dilalui anaknya masing-masing.”

Ketika ditanya apa pemerintah India nggak cerewet soal kurikulum? “Selama kami tidak minta uang, kami tidak akan diganggu”, jawab Ibu cantik kelahiran 8 April 1966 ini.

Bagaimana dengan kompetensi guru untuk mengajarkan kurikulum yang unik seperti itu?

Latar belakang guru di Riverside ternyata bermacam-macam dan tidak selalu memiliki pendidikan keguruan. Kiran sendiri adalah seorang desainer yang biasa mendesain restoran dan lain-lain. Sekolah lah yang bertanggung jawab mengembangkan potensi guru.

“Guru akan baik jika kita membuat mereka jadi baik. Mereka akan mengikuti apa yang kita lakukan. Jadi, kita harus bisa memberi contoh konkret. Mengembangkan kapasitas guru ini paling banyak menguras perhatian, waktu, dan tenaga kami karena kami butuh guru yang punya semangat dan gairah pada pembelajaran, anak, dan kehidupan. Kalau mereka semangat, anak-anak bisa ketularan dan punya semangat belajar dan eksplorasi macam-macam.”

Di Riverside guru mendapat pelatihan 2 kali seminggu. Bisa juga saat Sabtu atau libur sekolah. Guru butuh pasokan semangat agar terinspirasi, didampingi, serta diobservasi caranya mengajar dan menangani anak sekaligus diberi masukan. Semua itu untuk membuat guru percaya mereka juga bisa dan berdaya. 50 hari kerja dialokasikan untuk mengembangkan profesi guru.

Jadi berapa biaya sekolah di Riverside? Pasti sekolah mahal nih.

Ternyata Riverside menggunakan sistem subsidi silang. Sehingga 25% murid berasal dari keluarga miskin yang tidak perlu membayar. “Kami ini India mini, komplet dari sisi demografi, status sosial, hingga gender”

Kiran menutup wawancaranya dengan sebuah kalimat yang indah,

“Kita di dunia ini tidak untuk bersaing satu sama lain, tetapi saling melengkapi. Bebaskan kekuatan super anak dengan semangat “Aku Bisa”. Hasilnya akan mengejutkan. Formulanya sederhana: feel, imagine, do, and share. Right now, we only make children markable. Let’s make them remarkable.”

Pak Anies, jangan lupa bawa oleh-oleh konsep sekolah seperti di Indonesia!

Sumber:

Persona Kompas, 20 September 2015: Kiran Bir Sethi, Menulari Dunia dengan Virus “Aku Bisa”

Website Resmi Riverside School

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

Leave a Reply

%d bloggers like this: