5 Cara menghadapi kritik dari Adhitya Mulya

“Tulisan kamu dangkal banget ya. Nggak nyangka kamu bisa senaif itu.”

Dikritik itu sakit! Semakin benar semakin sakit. Jurus pertama biasanya adalah menjadi defensif. “Emang siapa lu? Cuma bisa nulis status doang sok-sok an kritik karya gua”

Nggak terima! Sakit hati! Apalagi buat para penulis baru yang merasa karyanya adalah maha karya tanpa cela. Sebuah masterpiece yang dikerjakan dengan otot, darah dan air mata.

Padahal ya, dari beberapa sumber, penulis buku-buku best seller itu sering dikatain karyanya buruk oleh para editor mereka. Mereka harus beberapa kali tulis ulang hingga karyanya bisa layak jual dan di terima pasar. Jadi kalau kita para penulis pemula yang belum pernah bisa memaksa orang lain beli tulisan kita, sebaiknya belajar dulu deh menerima masukan orang lain.

Adhitya Mulya termasuk salah satu penulis yang saya suka. Mulai dari Jomblo, Sebuah komedi Cinta (Gagas Media, 2003) yang bikin guling-guling ketawa, sampai Sabtu bersama Bapak (Gagas Media 2014) yang bikin sesegukan menangis.  Di antara itu ada lebih dari selusin lah buku tulisan suami dari penulis Ninit Yunita ini. Makanya wajar dong kalau saya hobi nyantronin blognya yang ternyata sering jadi tempat si penulis sebar-sebar ilmu kesaktiannya menulis.

Emangnya Adhitya Mulya sakti ya nulisnya?

Coba nilai saja sendiri lah. Buku pertamanya Jomlo, bisa 7 kali cetak ulang dengan total 24.000 kopi hanya dalam waktu 6 bulan pertama. Padahal saat buku itu launching di Indonesia, ia harus berangkat ke Cote d’Ivoire Afrika untuk bekerja pada sebuah shipping company. Praktis, dia tidak bisa aktif untuk memasarkan bukunya. Buku pertama loh. Kurang sakti apa coba!

Ternyata kesaktian menulis lulusan Teknik Sipil ITB kelahiran 1977 ini bisa jadi berasal dari kemampuannya menghadapi kritik. Dari folder lama yang sudah bulukan, saya ketemu tips keren yang menarik untuk kita pelajari. Saya sarankan untuk mengunjungi tulisan aslinya karena beneran kocak banget di blog lama Adhitya.

Berikut rangkuman tips menghadapi kritik ala Aditya Mulya:

 

  1. Dengar baik-baik dan berterima kasih pada orang itu.

Walau kedengarannya menyakitkan dan tidak fair, sebagai manusia yang tidak sempurna, kritik perlu disikapi dengan bijak. Ada alasannya Tuhan menciptakan 1 mulut untuk bicara, tapi 2 telinga untuk mendengar.

  1. Pahami bahwa kritik bisa datang dari perbedaan selera.

Tingkat penerimaan dan pemahaman orang itu beda-beda. Ketika menulis tentang traveller, akan berbeda penilaian para turis dan para backpackers.

  1. Bikin feedback system sebelum karya kita jadi.

Uji kemampuan pasar menerima karya kita dengan meminta masukan dari orang lain. Setelah menghabiskan waktu menulis ratusan jam penulis bisa jadi mengalami ‘figure blind’. Ia tidak bisa lagi menilai karyanya secara objektif. Disini penulis butuh bantuan orang lain untuk bisa menilai.

Ayah dari Aldebaran dan Arzachel ini biasa memberikan draft pertama tulisannya kepada  6-10 orang untuk mendapatkan feedback. Dengan masukan mereka dibuat revisi draft kedua untuk diberikan kepada 6-10 orang lagi. Demikian dilakukan beberapa kali. Lebih baik dibantai di kalangan terbatas daripada karya kita diloakin oleh penerbit karena nggak laku.

  1. Don’t take it personally terhadap kritik yang disampaikan orang.

Terima kritik dengan besar hati. Haram maki-maki balik orang yang sudah repot-repot ngasih kritik.

Di bagian ini Adhitya sempat cerita pengalamannya dimintai kritik oleh seorang penulis. Setelah di kritik ternyata si penulis yang meminta kritik sangat sakit hati. Dan mengumbarnya kemana-mana. Sejak saat itu Adhitya bersumpah untuk tidak mau ngasih kritik walau diminta dan nggak mau ngasih back comment lagi. Deu… ini mah namanya sama-sama take it personally atuh Jang.

  1. Kritik bisa jadi bermuatan iri.

Kok tahu itu ada muatan irinya? Contohnya begini, karya kita dihina dina karena dianggap karya kacangan. Eh, tahunya dia nongol di tempat lain dengan karya yang niru gaya kacangan kita. Bingung nggak tuh?

Get the point teman-teman? By the way, tips diatas penting juga untuk bisa kita terapkan dalam keseharian, bukan sebatas urusan menulis saja. Yuk terbuka menghadapi kritik untuk hasil yang lebih baik.

Sumber:

Website resmi Adhitya Mulya

Tips menulis fiksi dari Adhitya Mulya 

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

Leave a Reply

%d bloggers like this: