Warning: Error while sending QUERY packet. PID=384097 in /home/shantyst/public_html/wp-includes/wp-db.php on line 1889

Sabtu bersama Agustinus Wibowo

“Kita akan bertemu Agustinus Wibowo tanggal 27 Desember 2014”.

Itu pesan Pak Guru yang masuk di group Whatsapp AM5M beberapa minggu sebelumnya.

Semua antusias. Penulis genre baru non-fiksi kreatif Titik Nol yang keren itu (Titik Nol-nya yang keren, penulisnya saya belum tahu). Dua jam bersama Agustinus Wibowo (AW) eksklusif  untuk peserta AM5M dan gratis.

Maka mulailah pencarian lebih jauh tentang si Mas Agus ini. Mulai dari Titik Nol, buku bercover biru dengan seorang anak yang meloncat dari ketinggian. Breath taking. Saya benar-benar ingin punya buku itu. Tapi harganya 125ribu. Itu jatah makan keluarga 3 hari.

Lihat wawancaranya di Kick Andy dari YouTube. AW melakukan perjalanan darat dengan tabungan US$ 2000 ke daerah Tan. Afganistan, Tajikistan, Turkmenistan, Hidustan, dan tan tan yang lain. Sepertinya ini orang agak ajaib.

Buka blognya. Oh my… deretan foto-foto indah kelas National Geographi, tulisan-tulisan perjalanan yang tidak biasa, sejumlah liputan media yang terarsip dengan rapi. Sepertinya ini orang memang bukan penulis biasa.

Akhirnya  buku terbeli dengan diskon 27.5%. Hanya 90 ribu saja. Jadi cukup 2 hari puasa. God bless the bookstore. Sebuah buku tebal  552 lembar. 104ribu kata. Maka mulailah saya duduk manis ditemani teh hangat, mengikut pengembaraan dari Tibet, Nepal, India, Pakistan dan sesekali pulang ke Lumajang menjaga sang Mama yang tengah sakit kanker.

Akhirnya hari itu tiba. Sabtu, 27 Desember 2014. Pukul 10.45. Kami ber-12 menyambut si Mas Agus dan Pak Guru. Ternyata ini to… orangnya.

Ada perasaan unik. Ketika pertemuan akademi pertama pada bulan april, kami semua begitu antusias akan bertemu untuk pertama kalinya dengan Ahmad Fuadi, penulis Negeri 5 Menara, Ranah 3 Warna, dan Rantau 1 Muara. Dan pada pertemuan terakhir ini, perasaan itu kembali. Kini untuk bertemu dengan Agustinus Wibowo, penulis Selimut Debu, Garis Batas dan Titik Nol.

Pak guru membuka dengan pertanyaan “Sekarang lagi sibuk apa?”

Saat ini AW tengah menyelesaikan penulisan ulang Titik Nol untuk edisi bahasa Inggris. Tulis ulang? Kenapa harus ditulis ulang segala?

“Karena pembacanya berbeda. Untuk pembaca yang berbeda ternyata cara menyajikan suatu tulisan itu juga menjadi berbeda. Seharusnya tadi malam sudah beres. Masih tersisa 5 lembar lagi. Tapi demi AM5M, saya tinggalkan dulu”. Ah… sweet…mau dibantu Mas…

Apa Titik Nol akan diterjemahkan sendiri ke dalam bahasa Inggris? Seorang AW gitu loh, yang  tulisan berbahasa Inggrisnya ada di NG dan media asing lainnya.

“Nggak, ada penerjemah. Kosakata saya tidak cukup banyak untuk menulis sendiri sebuah buku”.

Ini ungkapan hampir senada ketika pertanyaan yang sama diajukan ke Pak Guru untuk buku Land of 5 Towers. “Kalau saya terjemahkan sendiri nanti bahasa Inggrisnya rasa rendang”.
Tadinya saya pikir, untuk orang yang kelasnya sudah selevel journalist internasional (Ahmad Fuadi di VOA dan Agustiawan Wibowo di NG) mereka pasti bisa menulis buku bahasa inggris. Ternyata tidak juga.

Sebagai polygot (orang yang menguasai banyak bahasa), penasaran juga mau tahu AW kalau mimpi pakai bahasa apa ya?

“Tergantung lagi ada dimana. Biasa menulis diary dalam bahasa inggris. Setiap bahasa memiliki rasa yang berbeda. Ketika menulis God dalam bahasa Inggris, saya bisa cerita lebih banyak dibanding dengan menulis kata Tuhan dalam bahasa Indonesia”.

Untuk menulis Titik Nol, AW menghabiskan waktu 2 tahun dengan menulis ulang sampai 20 kali. Benar-benar tulis ulang. Kenapa?

AW sangat menyarankan untuk membuat rangkuman dulu agar tidak tersesat. Kamu mau menulis apa sih? Rangkum dalam 1 kalimat. Kemudian pecah menjadi rangkuman bab demi bab. Baru setelah itu diuraikan lagi dalam paragrap demi paragrap.

Pilih detil yang mendukung  apa yang ingin kamu sampaikan. Misalnya kamu ingin bilang mengenai alam persawahan yang damai, sampaikan detil yang mendukung seperti sawah yang berundak-undak, bunyi burung, segarnya udara. Tidak perlu disampaikan bahwa diatasnya ada villa atau restaurant mewah yang mendendangkan musik dangdut hingar-bingar.

Tahu dulu apa yang ingin kamu sampaikan!

Ketika tidak melakukan itu, AW sering kali tersesat saat di tengah buku. Banyak detil mubazir. Bisa dibilang 1 tahun terbuang percuma dalam proses penulisan Titik Nol.

Mengenai cara menulis, AW biasa menulis setiap detil perjalanannya setiap malam. Tidak ditunda-tunda besok atau minggu depan. Ada catatan kecil, dan ada yang agak besar. Diary perjalanannya cukup banyak dan semuanya sudah disalin dalam bentuk file. Di tulis kembali!

AW ini lulusan Cumlaude dari Computer Science Universitas Tsinghua, universitas papan atas tingkat dunia. Nomor 1 terbaik di China. Salah satu bagian terbaik dari buku Titik Nol adalah ketika dia telpon ke papanya untuk menyampaikan kabar baik dan kabar buruk. Kabar baiknya adalah saya telah lulus kuliah dengan predikat terbaik, ditawari S2 di sekolah terbaik dan pekerjaan yang bagus. Kabar buruknya adalah saya menolak itu semua dan akan melakukan perjalanan keliling dunia.

Apa motivasinya belajar mati-matian sampai cumlaude kalau pada ujungnya dia memilih keliling dunia. Kenapa tidak malas-malasan aja kuliah, dan mulai belajar jadi jurnalis saja?

“Sebagai etnis Tionghoa, kami selalu di didik untuk berkompetisi. Sebagai minoritas, jika kamu hanya rata-rata, kamu bukanlah apa-apa. Kamu harus jadi pemenang”. Prinsip itu sudah mendarah daging dalam diri kebanyakan orang Tionghoa. Ketika di Beijing, dimana etnis mereka menjadi mayoritas, ternyata prinsip itu tetap berlaku. Ada milyaran orang di sana. Mereka masing-masing harus diatas rata-rata. Semangat untuk kompetisi itu tetap tumbuh subur. Di Tsinghua, mahasiswanya bahkan hapal kamus. Toefl bisa diraih dengan nilai sempurna. Biar ngomongnya mbalelo, nilai score Toeflnya bisa 670.

Tapi ketika dalam perjalanan, AW menemukan bahagianya dalam keterbatasan. Banyak kebahagiaan kecil yang begitu disyukuri tanpa kompetisi yang gila-gilaan. “Saat mengejar sesuatu dan kemudian mendapatkannya, rasa senangnya itu sebentar. Mungkin satu atau dua bulan. Setelah itu kita akan lupa. Baru terasa lagi setelah itu hilang. Saya bahkan sudah lupa rasa senang ketika cumlaude”.

Setelah perjalanan keliling sejumlah tempat dan melihat beragam agama, apa pendapat AW mengenai agama?

Ini berat dan dalam katanya. Ia menyitir cerita Nasrudin, yang menyatakan bahwa bulan itu lebih penting daripada matahari. Karena orang lebih butuh cahaya bulan di malam hari dari pada di siang hari.

Agama dinilai AW sebagai cahaya yang hakikatnya dari Tuhan. Bukan dari Bulan atau Matahari. Itu yang paling penting. Dalam perjalanan AW melihat banyak orang beragama yang terlalu berkutat dengan syariat dan tarikat hingga melupakan hakikat. Betapa mirisnya melihat bagaimana orang membunuh atas nama agama. Bagaimana anak-anak dilepas dilahan penuh ranjau. Diberikan kunci plastik yang katanya kunci surga. Setelah semua ranjau meledak oleh kaki-kaki kecil itu, baru para tentara melintas. Atas nama agama.

Ketika tahun 2004, AW ikut sebagai relawan Tsunami ke aceh. Sebelum terjadi Tsunami, rencana ke Aceh sebenarnya sudah ada. Karena ingin mengantarkan teman dari prancis dan melihat langsung konflik GAM di Indonesia. Ia banyak belajar dari sana. Pada saat itu ternyata ada juga pihak-pihak yang menganggap tsunami aceh sebagai hukuman terhadap orang Aceh. Ini tidak hanya penilaian orang di Beijing China yang masih dendam akan peristiwa 1998 dimana banyaknya etnis thioghoa yang dibunuh. Di daerah tetangga Aceh pun penilaian yang sama terjadi. Hukuman dari Tuhan karena banyaknya anggota keluarga mereka yang menjadi korban tentara GAM.

Ini hal yang sebenarnya umum, betapa kita begitu mudah menganggap suatu musibah sebagai hal yang pantas diterima. Tapi apapun itu, rasa kemanusiaan, menolong dan ditolong itu muncul tanpa mengenal batas agama dan ras.

“Ada kalanya kekacauan itu dibutuhkan untuk membuat keseimbangan alam. Ada baik ada buruk. Ketika disuatu daerah tidak ada penjaga keamanan, maka kejahatan akan merajalela. Peace is War or vice versa”.

Perjalanan merubah saya

Itu yang diucapkan seorang nerd yang kesehariannya semedi bersama buku dalam ruang 3x3m di Lumajang, kemudian bermetamorfosis menjadi musafir yang begitu luwes bergaul dengan banyak orang. Bisa jadi perubahan positif ini yang membuat orangtua AW cukup demokratis dan ikhlas menerima pilihan hidup anaknya untuk menjadi musafir berkeliling dunia.

Saat ini AW baru pulang dari perjalanan ke Papua Nugini. Ia ingin merekam suasana di daerah perbatasan Indonesia. Selama 3 bulan tidak menginap di hotel. Dari rumah penduduk ke rumah penduduk. Untuk mendapatkan imaji yang utuh dari suatu tempat, kuncinya adalah komunikasi. Bergaul dengan masyarakat dan menyelami apa yang mereka kerjakan. AW berusaha mempelajari bahasa masyakarat. Tidak ada instan untuk mempelajari bahasa katanya. Ia tidak hanya menghapal kosakata. Namun memulainya dari grammar dan struktur kalimat, baru kemudian kosakatanya.

“Ketika hanya menghapal kosakata, bisa saja kita mudah mengajukan pertanyaan, tapi kita akan kesulitan menerjemahkan jawabannya, karena keterbatasan kosakata kita”.

Menginap dirumah penduduk adalah salah satu usaha AW untuk bisa lebih dalam menggali mengenai masyakat tersebut. Berapa lama dirasa cukup untuk mengenal?

” Tidak tentu. Tergantung sejauh mana kualitas komunikasi. Kalau datang cuma lihat-lihat saja tanpa interaksi, ya setahun juga nggak akan dapat-dapat”.

Bagaimana ketika kita ingin menulis sesuatu pengamatan yang dinilai tabu?

“Kita menyampaikan apa yang kita rasa. Bukan menghakimi orang. Lihatnya dari sudut pandang mereka. Itu bisa menjadi kekuatan karena tulisan akan menjadi otentik dan tidak generik”.

The power of Blog

Buat saya, National Geographi adalah sebuah utopia. Hanya best of the best yang bisa tembus NG. NG adalah kesempurnaan dalam sebuah karya. Dan AW karya-karyanya bisa ada di NG. Bagaimana caranya menembus NG?

“Mereka yang menghubungi saya”.

What? AW yang ditembus? Kok bisa?

“Blog saya itu seperti etalase. Banyak media yang tertarik. Ada yang beli foto. Fotonya ada yang dihargai US$ 400. Kompas tertarik membuat rubrik petualang. Penerbit mengejar untuk menerbitkan buku. Blog awalnya dalam bahasa Inggris, bisa jadi itu yang membuat cakupan blog ini menjadi lebih luas dan dilirik banyak orang sebagai referensi perjalanan. Fotonya dengan kamera Pocket coolpix biasa, 5MP. Baru akhir-akhir saya punya yang lebih canggih. Cover titik nol itu diambil dengan camera pocket”.

Apakah seorang AW mungkin untuk menetap di suatu tempat?

“Buat saya rumah itu ada di sini”. Sambil menunjukkan hatinya. Rumah yang bisa dibawa kemana-saja, mengikuti perjalanan sang musafir.

Sumber: Perabot di rumah lama 27 Desember 2014

 

 

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

One thought on “Sabtu bersama Agustinus Wibowo

  • January 4, 2016 at 6:22 am
    Permalink

    Bismillah..
    Sabtu bersama AW, sebuah artikel yang dapat menggambarkan seolah-olah kita berada pada hari itu.. Alhamdulillah saya mendapat insight tentang pentingnya menentukan 1 ide utama dalam menulis dan tahu dulu apa yang ingin kamu sampaikan!
    Masalah klasik yang sering menghampiri ketika menulis di blog 🙂
    Hatur nuhun, teh Shanty
    Moga di 1 day 1 postnya bisa diaplikasikan konsep ini

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: