KonMaring your home, KonMaring your life

Sejak mengenal KonMari dari sebuah grup WhatsApp, saya langsung jatuh cinta pada seni mengorganisasi rumah ala Tante Marie Kondo ini. Bukan tanpa alasan buku beliau Life-changing magic of tidying up, the japanese art of the cluttering and organizing menjadi #1 New york times best seller.

Apa sih KonMari itu? Mau dong beli bukunya.

Ternyata nggak perlu nunggu baca bukunya dulu untuk ikutan KonMaring. Banyak banget informasi beredar tentang bagaimana orang mengorganisasi rumahnya dengan cara KonMari. Bahkan lengkap dengan YouTube-nya loh. Dan kita akan terpesona melihat orang-orang begitu excited mengorganisasi rumah dan mengubah hidup mereka menjadi lebih nyaman.

Apa hubungannya beberes rumah dengan mengubah hidup? Percaya deh, harus dicoba sendiri dan mari bergabung dengan para KonMari-ers dari seluruh dunia.

Walau sebelumnya saya sudah melakukan KonMari sebagian-sebagian, baru akhir tahun kemarin saya niatkan untuk mengalokasikan waktu khusus mengorganisasi rumah. KonMari itu bukan pekerjaan 2 atau 3 jam, tapi bisa memakan waktu sekitar semingguan lah untuk satu rumah.

Kok lama banget?

Sebenarnya tergantung seberapa banyak timbunan barangmu juga. Rumah mungil saya tipe 36 yang rasanya kaya nggak punya barang apa-apa itu perlu waktu beberapa hari. Hari pertama adalah kategori pakaian, hari kedua buku, dokumen dan pernak-pernik, hari ketiga mainan anak-anak, hari keempat dapur, hari kelima gudang. Bahkan saya perlu satu hari khusus untuk mensortir koleksi klipingan Koran Kompas saya.

Sebenarnya awalnya tidak direncanakan buat beberapa hari. Saya pikir sehari juga beres. Ternyata tidak bisa. Yang sepertinya tidak punya apa-apa itu, ternyata hidup saya penuh timbunan barang. Idealnya saat kita melakukan KonMari, tidak ada orang (baca: pasangan) yang lihat. Karena beberapa momen bisa menjadi agak dramatis.

Berminat KonMaring? Begini langkah-langkahnya:

  1. Kumpulkan semua barang sesuai kategori. Misalnya hari ini kita mau rapikan pakaian. Kumpulkan semua pakaian di tempat tidur. SEMUA ya. Kosongkan lemari, kosongkan laci, kosongkan box-box pakaian, kosongkan koper dan tas. Prinsipnya, barang itu dikumpulkan sesuai kategori, bukan lokasi.

Karena pelupa, saya tanpa sengaja menempatkan sejumlah kaos kaki di berbagai tempat. Ada di laci kaos kaki, di rak pakaian dalam, di rak baju sekolah. Kalau sudah dikumpulkan semua, kita bisa takjub menemukan sejumlah barang yang hilang seperti ketemu jilbab ketelingsut dalam box atau T-shirt anak-anak di sudut laci.

Kita juga akan terpesona dengan jumlah barang yang kita miliki. Ternyata saya punya 3 stepler, 2 lusin polpen, 3 strip obat flu, 2 gunting kuku, selusin gantungan kunci, segunung tas kain, yang terkumpul dari berbagai penjuru rumah. Padahal kita jelas-jelas tidak butuh barang sebanyak itu.

  1. Sortir barang sesuai sub kategori. Kumpulkan pakaian setiap anggota keluarga. Pilah-pilih setiap barang. Pegang satu-satu setiap barang dan rasakan apakah barang itu ‘spark joy’ atau membuatmu merasa senang atau tidak. Jadi bukan sekedar penting apa tidak penting ya.

Kalau buat saya, seleksinya juga adalah pertanyaan apakah barang ini saya pakai dalam setahun terakhir atau berencana memakainya dalam setahun kedepan. Untuk barang-barang yang tidak pernah disentuh dalam setahun terakhir, kemungkinan besar akan tidak saya sentuh juga dalam beberapa tahun kedepan, akan  diikhlaskan untuk dipakai orang lain. Tapi memang ada saja sih barang yang berat untuk dibuang padahal tidak pernah disentuh dalam 6 tahun terakhir!

Berat buang barang?

Nggak juga. Sambil teriring doa, semoga barang ini bisa bermanfaat buat orang lain dan saat saya perlu ada barang yang lebih baik.
Memang paling berat saat berurusan dengan barang orang lain. Apakah kumpulan gambar Sasya yang lecek, prakarya Raka yang berantakan atau raket tenis Abah yang tidak pernah disentuh dalam 9 tahun terakhir memberikan rasa senang? Tentu tidak. Pengennya buang-buang-buang. Cuma orangnya pasti ngamuk kalau barangnya hilang. Memang perlu keahlian khusus untuk memilah-milah barang orang lain.

Kalau untuk karya anak-anak, saya memilih menyimpannya dalam bentuk foto daripada barangnya. Paling tinggal siapkan bahannya untuk mereka buat lagi kalau suatu saat nyari.

  1. Sedekahkan barang yang tidak terpakai. Ikhlaskan lah. Ada tips dengan menggunakan plastik bag hitam besar yang tidak tembus pandang untuk menyimpan barang-barang ini. Karena kalau terlihat, kita cenderung ingin menyortirnya lagi dan masih diambil lagi. Segera enyahkan dari rumah. Bisa langsung ke Mang Sampah, bisa sedekah ke orang-orang yang membutuhkan, atau kalau pelit ya jual aja di lapak-lapak online.

Percaya deh, hidupmu jadi lebih ringan setelah bersedekah barang-barang yang tidak terpakai dalam 1 tahun terakhir!

  1. Atur barang pada tempatnya sesuai kategori. Pastikan hanya ada 1 lokasi untuk menyimpan sub-kategori tertentu. Handuk itu tempatnya di rak tertentu. Jangan sampai ada 1 handuk di laci, 1 handuk di rak itu, 1 handuk di rak lain. Kumpulkan dalam 1 tempat. Bila perlu, tambahkan stiker nama setiap barang. Jadi setiap anggota keluarga tahu letak setiap barang.

Laci asesoris Sasya

Stiker ini juga cocok buat anak yang belajar baca. Sasya paling hobi baca stiker-stiker yang saya tempelkan di mana-mana. Dia juga jadi tahu dimana harus meletakkan apa.

Teknis penempatan barang juga ada contohnya. Saya sangat suka cara melipat pakaian secara digulung. Jadi tidak ditumpuk seperti sebelumnya. Kalau ditumpuk, kita hanya mudah mengambil pakaian teratas. Kalau ambil yang bawah, pasti jadinya berantakan. Apalagi kalau urusan tempat penyimpanan pakaian anak-anak.

Laci pakaian dalam anak-anak

Dari KonMari, saya belajar cara mengatur pakaian dengan cara digulung. Ini cocok untuk lemari penyimpanan berbentuk laci. Dengan cara digulung, laci anak-anak kini selalu rapi. Mereka bisa ambil pakaian mana saja, tapi tidak memberantakkan pakaian yang lain. Sistem gulung juga membuat jadi menghemat tidak perlu setrika. Pakaian seperti T-shirt, pakaian rumah dan pakaian dalam menjadi lebih rapi saat dipakai tanpa perlu disetrika. Really love the method.

  1. Nikmati rasa ringan dalam hidupmu melihat rumah yang tertata.

Selanjutnya kita bisa mulai me-Konmaring Hp, isi laptop, bahkan isi kepala.

Highly recommeded experience to try!

 

Sumber:

http://goop.com/the-illustrated-guide-to-the-kondo-mari-method/

Shanty Dewi Arifin

Penulis yang suka berbagi Pengalaman dan Oleh-oleh dalam rangka belajar menjadi perempuan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Bergabung dengan komunitas: Blogger - Institut Ibu Profesional Bandung - Arsitektur ITB 93 - IATSS Forum 2003 - Akademi Menulis 5 Menara - #ODOPfor99days.

13 thoughts on “KonMaring your home, KonMaring your life

  • January 4, 2016 at 5:58 am
    Permalink

    Teteh, kalau teknik menggulung kaos atau baju nya gimana ya?
    Yang pakaian dalem sma kerudung udah pake teknik gulung aku. Dan emang bener bangeet jadi rapih. Hehe

    Nuhun teh.

    Reply
    • January 4, 2016 at 8:08 am
      Permalink

      Ya sama digulung seperti itu juga. Cuma kalau bentuknya nggak laci ya dibuat aja numpuk 2 atau 3 lapis. Ini untuk baju rumah ya. Kalau baju pergi ya di gantung.

      Reply
  • January 4, 2016 at 7:54 am
    Permalink

    Udah ketemu (cara ngelipet baju konmari di youtube ) horee
    Makasih teh XD

    Reply
  • January 7, 2016 at 7:34 pm
    Permalink

    Itu teknik gulungnya bagaimana ya? Apa untuk yang jenis kaos dan lainnya juga perlu digulung?

    Reply
  • January 8, 2016 at 2:05 am
    Permalink

    Nah!
    Worth to try, buat aku si ratu berantakan, yang belom nemu cara bikin rumah rapi genah merenah.
    TFS ya Buuuu! 🙂

    Reply
  • January 8, 2016 at 2:05 am
    Permalink

    lemari saya bentuknya bukan laci, jadi saya akalin sendiri dengan bikin kotak-kotak dari kardus, khususnya buat naruh kaus kaki atau pakaian dalam. jadinya cakep 😀

    Reply
    • January 8, 2016 at 4:01 am
      Permalink

      Pengen lihat deh fotonya. Jadinya kaya gimana? Kalau untuk lemari baju kaos atau baju rumah, saya digulung juga. Walau jadinya nggak serapi kalau di laci.

      Reply
  • January 24, 2016 at 12:57 pm
    Permalink

    Halo mba… aq juga uda nerapin ini.. seru2 capek pas prosesnya. Tapi hasilnya lumayan membantu sortir2 baju gak terpakai. Tfa ya mba

    Reply
  • Pingback: Preparing Sidang Part 1 | RND in Wonderblog

  • February 13, 2016 at 11:43 pm
    Permalink

    Klo cara menyimpan tas gimana ya? Tas ransel, tas olahraga, fas travel, dsb..
    Bingung gmn caranya biar praktis kya nyimpan kaos..

    Reply
    • February 14, 2016 at 3:28 am
      Permalink

      Yang pasti menurut saya prinsipnya ditempatkan dalam 1 lokasi agar mudah dicari.

      Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: